Aswaja Magazine

0
Rasulullah Teladan Kita
Ada sebuah ungkapan motivasi yang bernilai tinggi, "if you want to be success follow the success person - bila engkau ingin menjadi sukses ikutilah orang yang sudah sukses."

Dalam ilmu NLP diperkenalkan istilah modelling, di mana kita menduplikasi sesuatu dengan detail mulai dari sifatnya, bentuknya bahkan sampai visualnya. Dengan modelling diharapkan kita dapat mencopypaste "sesuatu" yang kita mau ambil.

Dalam bidang apapun, teknik menduplikasi ini diakui -langsung atau tidak- sebagai jalan tercepat untuk sukses.

Nah, begitulah dalam kehidupan, kita sangat butuh panutan dan teladan yang dapat kita jadikan model agar kita dapat menapaki jalan keselamatan. Karena nyatanya banyak yang tak selamat dalam kehidupan ini.

Lalu karena sebagai manusia kita ini bukan malaikat yang selalu ta'at dan juga bukan setan yang pasti menentang, maka jelas sekali prototype teladan itu mesti seseorang yang sama bahan dasarnya yakni sama-sama manusia juga.

Sang teladan itu basyarun lâ kal basyar, manusia tetapi tidak persis sama dengan manusia biasa, karena memiliki keistimewaan tersendiri (QS: 18/110). Nah, sebagai manusia tentu saja tidak ada halangan bagi kita untuk menduplikasinya, dan siapapun yang mengikutinya, ia menapaki jalan keselamatan.

Sang teladan itu digelari sebagai pemimpin kalangan jin dan manusia (sayyid al-kaunain wa ats-tsaqolain) yang risalahnya mengajarkan kesempurnaan akhlaq dengan pondasi penghambaan kepada Allah sebagai satu-satunya ilah yang disembah.

Ajarannya penuh kedamaian dan kearifan. Penebar rahmat dan kasih sayang, pelindung masakin dan aytâm. Pengibar panji keselamatan. Sangat anti pada arogansi dan kekerasan namun amat tegas pada kekufuran dan kezhaliman.

Sang teladan ini, manusia suci yang kesuciannya tak membuatnya tinggi hati. Manusia besar yang kebesarannya tak menghentikan beliau untuk selalu beristighfar. Manusia luhur yang citranya sepanjang sejarah tak pernah luntur.

Manusia mulia ini bernama Muhammad bin Abdillah bin Abd Mutholib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Udud bin Ilyasa' bin Humaisa' bin Salaman bin Nabat bin Haml bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim As bin Tarikh bin Takhur bin Sarukh bin Ar'awa' bin Faligh bin 'Abir dan dia adalah Hud As bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh As bin Lamak bin Matusylakh bin Akhnukh, dia adalah Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam AS.

Nasab yang jelas hingga ke kakek moyang manusia yaitu Adam AS menunjukkan bahwa spesies kemanusiaan itu terpelihara dari jalur kemusyrikan maupun perzinahan. Semuanya terjaga dalam bingkai tauhid yang luhur nan suci.

Kemuliaan Nabi Muhammad itulah point sentral modelling kita. Kemuliaannya berpusat pada tauhid sebagai pandangan dunia yang nanti terderivasi pada seluruh bagian kehidupan beliau.

Ajaran tauhid menyuarakan pembebasan manusia atas ketundukan dan penyembahan kepada selain Allah. Sebagai pandangan hidup, tauhid akan melepaskan manusia dari ketakutan dan keterkungkungan akibat penindasan yang tiran.

Dalam implikasi seluas-luasnya, ajaran tauhid yang dibawa sang nabi, menempatkan manusia secara equal, tidak ada perbedaan antara orang Arab dan 'Ajam, antara kaya dan miskin, antara penguasa dan rakyat. Bahkan dengan hebat, ajaran ini mengangkat derajat kemuliaan perempuan.

Kemuliaan sang nabi secara lembut menurun pada pengikutnya yang terwarisi kearifan beliau. Sementara pada sebagian pengikut yang lain, ada saja, karena kebodohannya atau nafsu yang menguasai diri, membuat mereka arogan dan gampang mengkafirkan saudaranya.

Risalah Muhammadiyah bernafaskan kedamaian meniupkan kelembutan yang memasuki relung hati terdalam manusia. Perubahan yang diajarkan sangat holistik, utuh dan menyeluruh. Seolah-olah risalah ini telah berpesan kepada penganutnya:

"Rahmati saja lisanmu, jemarimu, akal fikiranmu, perilaku dan tindakanmu, biarkan kekuatan cinta ini menjadi motif semua aktifitasmu, bersama rahmat Allah engkau menjadi lebih arif dan santun, sehingga dalilmu akan perpecahan umat tidak menjadi penghalang untuk mencintai saudaramu yang lain."

Risalah ini juga seperti dialog yang dituturkan dengan elok oleh Dr. Muhammad Hasan tentang perbincangannya dengan seorang pemuda yang keras (dalam ber-Islam):

Beliau bertanya kepada pemuda itu, “Apakah meledakkan Klub malam di suatu negara muslim halal ataukah haram?”.

Pemuda itu menjawab, “Tentu saja halal, dan membunuh mereka pun diperbolehkan”.

Dr. Muhammad Hasan bertanya kembali, “Kalau kamu membunuh mereka yang bermaksiat, ke mana mereka akan kembali?”.

Pemuda itu menjawab, “Sudah pasti ke neraka”.

Lalu Dr. Muhammad Hasan bertanya lagi, “Sedangkan ke mana tujuan syaitan menggoda manusia?”.

Pemuda itu menjawab, “Pasti ke neraka juga”.

Dr. Muhammad Hasan pun berkata padanya, “Berarti kalian telah bersekutu dengan syaitan dalam satu tujuan yaitu menjerumuskan manusia ke dalam neraka!”.

Dr. Muhammad Hasan kemudian menyebutkan satu hadits Rasulullah ketika ada jenazah orang Yahudi yang lewat di hadapannya kemudian Beliau menangis, maka para sahabat bertanya: “Apa yang membuatmu menangis ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Aku telah membiarkan satu orang masuk neraka…”.

Dr. Muhammad Hasan berkata pada pemuda itu, “Perhatikan perbedaan pola pikir kalian dengan Rasulullah yang berusaha untuk memberikan hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari siksa Api neraka? Kalian di satu sisi, sedangkan Rasulullah dan Islam di sisi yang lain."

Da'wah sang nabi sejak dulu telah membumi dan mem-venus; menawarkan kebahagiaan dengan cara yang arif dan bijak, teramat damai, benar-benar tanpa kekerasan! Meskipun pada bagian tertentu difahami secara parsial oleh pengikutnya sekarang dengan cara-cara yang kasar dan arogan!

Secara content, tawaran kebahagiaan dan kesuksesan hidup dunia-akhirat ini benar-benar telah membuat para musuh Islam jatuh hati, lalu mereka bersaksi menjadi pengikut setia.

Sang Nabi SAW Benar-Benar Mempesona
Bukan hanya content dakwah yang ma'qul (baca: rasional) tetapi juga suguhan pola dakwah yang menarik; gagah dan memotivasi!

Sejak kecil, sang nabi telah berinteraksi dengan bisnis, mulai sebagai employee, bisnis partner, lalu investor lalu owner, jadi dengan kegemilangan duniawi sudah tidak berhasrat lagi sama uang, maka saat penegasan risalah diproklamirkan, beliau benar-benar menjadi teladan bagi para da'i dan umat.

Inilah mata rantai ajaran sang nabi yang tidak boleh putus; the power of motivation. Kekuatan motivasi sebegitu dahsyat yang dapat menggerakkan perubahan jahili menuju peradaban imani. Tidak hanya di jazirah Arab tetapi melintasi semua benua. Gerak dahsyat itu kini bahkan telah menembus seluruh negeri bahkan yang paling sekuler sekalipun.

Motivasi iman, ilmu dan keihsanan pekerti berjalan berkelindan dalam wajah risalah yang semerbak mewangi. Warna dakwah motivasi ini tidak boleh padam meskipun banyak aktivis dakwah mengaku mengusung sunnah namun kerap memaki, mencerca dan memfitnah.

Sang nabi dan seluruh kemuliaannya bukan sekedar kisah tetapi sejarah yang melegenda. Baca, pelajari, selami, dalami, fahami, hayati, maknai dan duplikasi.....

Suatu ketika sehabis mengimami shalat subuh, Rasulullah langsung berbalik menghadap para sahabat. Beliau bertanya kepada mereka: “Kaifa Ashbahtum? - Bagaimana kabar kalian pagi kalian?"

Hal ini menunjukkan betapa akrabnya hubungan antara seorang Rasul dengan ummatnya.

Kalau kawan kita bertanya : Gimana kabarmu? Biasanya kita jawab: Alhamdulillah baik. Lain kita lain para sahabat, ketika mereka ditanya “Bagaimana kabar kalian pagi ini? “ mereka menjawab: “Kami pagi-pagi ini dalam keadaan iman kepada Allah."

Dahsyaaaat

Suatu jawaban yang menunjukkan betapa tinggi nilai keimanan mereka. Rasulullah tidak lantas berhenti bertanya mendengar jawaban itu, beliau melanjutkan: Apa buktinya bahwa kalian beriman kepada Allah?

Coba bayangkan “Kalau kita yang ditanya begitu kira-kira jawaban apa yang bisa kita berikan?”

Kita mungkin akan diam karena memang tidak tahu akan menjawab apa? Atau mungkin akan balik bertanya: “Memang Beriman perlu bukti yaa?” atau kita jawab asal-asalan padahal yang bertanya seorang Utusan Allah?

Dan beginilah para sahabat menjawab: Bukti bahwa kami beriman kepada Allah ialah: Pertama kami pagi-pagi ini bersabar atas bala (cobaan) yang diturunkan Allah kepada kami. Kedua kami bersyukur atas pemberian yang Allah berikan kepada kami, baik sedikit maupun banyak. Kami tidak melihat sedikit banyaknya pemberian tetapi kami melihat siapa yang memberikannya. Ketiga kami menerima qodho (taqdir) Allah yang telah ditetapkan atas kami.

Saya menyebut ini sebagai "warta keimanan", coba sesekali anda tanya pasangan anda, anak anda, teman anda, "bagaimana kabar iman-mu hari ini?" Oowwh ini pertanyaan yang jleb dan masuk ke hati. Boleh jadi saat suami anda mau korupsi ditanya seperti ini urung korupsi, maka rajinlah bertanya via sms atau bc, "bagaimana kabar iman-mu hari ini?"

Sang nabi adalah teladan kita, mari maknai hari kelahirannya.

Sumber:
Broadcast BBM Ustadz ENHA Pengasuh Istana Yatim
www.mistikuscinta.com

https://www.google.com/contributor/welcome/?utm_source=publisher&utm_medium=banner&utm_campaign=ca-pub-2925047938169927
Visit Dukung Aswaja Magazine dengan menjadi Kontributor

Sudah berapa lama Anda menahan rindu untuk berangkat ke Baitullah? Melihat Ka’bah langsung dalam jarak dekat dan berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah. Untuk menjawab kerinduan Anda, silahkan klik Mubina Tour Indonesia | Follow FB Fanspages Mubina Tour Indonesia - Sub.

Post a Comment Blogger

 
Top